Tugas Dasar-Dasar Perlindungan Satwa Liar; ORANGUTAN SUMATERA


ORANGUTAN SUMATERA
(Pongo abelii Lesson, 1827)

Kawasan Hutan Batang Toru (KHBT) merupakan kawasan hutan di Sumatera Utara yang bernilai tinggi, baik dalam aspek keanekaragaman hayati maupun aspek ekonomi serta memiliki fungsi hidrologi yang penting. KHBT terdiri dari Hutan Batang Toru Blok Barat dan Hutan Batang Toru Blok Timur (Sarulla). Pada kawasan hutan ini terdapat hutan primer seluas 136.284 ha. Di kawasan Hutan Batang Toru terdapat daerah tangkapan air untuk 10 DAS (Daerah Aliran Sungai). Sepuluh DAS tersebut adalah : Sipansipahoras, Aek Raisan,  Batang Toru  Ulu,  Sarulla  Timur,  Aek  Situmandi, Batang Toru  Ilir (Barat dan Selatan), Aek Garoga, Aek Tapus, dan Sungai Pandan. Nilai penting keberadaan KHBT lainnya adalah pemanfaatan panas bumi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Sarulla yang akan menyediakan pasokan listrik sebesar 300 MW untuk keperluan listrik Sumatera Utara.
Kekayaan bahan tambang di KHBT sangat berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sampai saat ini telah ada perusahaan pertambangan emas yang sedang beroperasi yaitu PT. Agincourt Oxiana. Keberadaan KHBT juga bernilai penting dalam hal penyedia jasa lingkungan sangat penting. Jasa lingkungan yang merupakan potensi dari KHBT adalah berupa penyedia air baik bagi  kebutuhamasyarakat  di  bagian  hilir  sampai  hulu  maupun  sebagai penyedia energi bagi PLTP. Keindahan alam Hutan Batang Toru yang masih alami dapat menjadi modal bagi pengembangan ekowisata di daerah Sumatera Utara.
Kondisi hutan alam Batang Toru yang masih alami sangat penting bagi kehidupan masyarakat, karena dari dalam hutan inilah aliran Sungai Batang Toru berasal. Selain itu nilai penting Hutan Batang Toru adalah kekayaan jenis flora dan fauna yang dimilikinya. Hutan Batang Toru juga menjadi salah satu lokasi yang merupakan habitat dari Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson, 1827), sehingga kelestarian hutan ini akan sangat berpengaruh terhadap keberadaan Orangutan Sumatera yang terancam punah.
Berdasarkan  hasil penelitian Van Schaik pada tahun 2004 Orangutan Sumatera pertama kali diketahui terdapat habitat Orangutan Sumatera di KHBT. Diperkirakan ada 400 ekor Orangutan Sumatera yang kini mendiami KHBT Blok Barat, dan sekitar 150 ekor di kawasan hutan Batang Toru Blok Timur (Sarulla). Ancaman kepunahan Orangutan Sumatera merupakan dampak negatif dari semakin besarnya laju kerusakan hutan dataran rendah Sumatera yang merupakan habitat bagi kehidupan Orangutan, selain itu maraknya perburuan terhadap satwa ini juga memperparah kondisi populasi Orangutan di habitat alaminya.
Berdasarkan Red List of Threatened Species IUCN (International Union for Conservation of Nature) tahun 2007, Orangutan Sumatera merupakan satwa yang tergolong sebagai critical endangered species, sedangkan menurut CITES (Convention on International Trade of Endangered Species of Flora and Fauna) Orangutan Sumatera masuk ke  dalam  kategori Appendix I.  Orangutan juga merupakan satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1999. Orangutan adalah satu-satunya primata yang termasuk jenis kera besar yang ada di Asia dan hidup secara arboreal. Sama seperti jenis kera besar lainnya di Afrika, Orangutan juga membuat sarang di atas pohon sebagai tempat tidur. Fungsi lain sarang Orangutan adalah untuk digunakan sebagai tempat istirahat pada siang hari, namun dalam beberapa kasus lain  dijumpai sarang yang digunakan sebagai tempat bermain dan perkawinan. Keberadaan Orangutan Sumatera di Hutan Batang Toru dapat diketahui dengan banyak ditemukannya sarang Orangutan di lokasi tersebut.
Perilaku bersarang Orangutan sangat unik, sehingga perlu dilakukan studi untuk mempelajari hal tersebut. Orangutan memiliki preferensi dalam membuat sarangnya, mulai dari pemilihan lokasi sampai dengan penentuan jenis pohon yang sesuai untuk dibangun sarang di atasnya. Pemilihan pohon tempat bersarang diketahui melalui pengamatan terhadap pohon-pohon yang digunakan sebagai pohon tempat bersarang. Melalui pengamatan tersebut akan dapat diketahui karakter pohon sarang Orangutan yang ada di kawasan hutan Batang Toru. Studi mengenai karakteristik pohon sarang Orangutan ini dapat menjadi salah satu tindakan yang merupakan suatu upaya dalam konservasi Orangutan Sumatera di Indonesia.

A.    Bio-ekologi Orangutan Sumatera
Taksonomi Orangutan Sumatera
Menurut   Poirie (1964 dala Grove (1972)   klasifikasi   dari Orangutan Sumatera adalah sebagai berikut :
Kingdom                       : Animalia
Subkingdom                  : Metazoa
Phylum                          : Chordata
Subphylum                    : Vertebrata
Kelas                             : Mamalia
Ordo                              : Primata
Subordo                         : Anthropoidea
Superfamili                    : Homoidea
Famili                            : Pongoidea
Genus                            : Pongo
Spesies                          : Pongo abelii Lesson, 1827
Perbedaan genetik, geografi, morfologi muka, badan, dan perbedaan karakter rambut pada Orangutan Kalimantan dengan Orangutan Sumatera berdasarkan hal tersebut maka dibedakan menjadi dua spesies yang berbeda. Spesies Orangutan di Kalimantan terdiri dari 3 subspesies yaitu Pongo pygmaeus  pygmaeus, Pongo pygmaeus warumbii dan Pongo pygmaeus morio sedangkan spesies Orangutan di Sumatera adalah Pongo abelii. Kedua subspesies ini memiliki perbedaan genetik yang cukup tinggi, kedua subspesies ini  merupakan dua spesies yang terpisah.

Morfologi
Ciri fisik famili Pongoideadalah  lengannya  200%  dari  panjang tubuh, kaki pendek hanya 116% dari panjang tubuh. Jari telunjuk lebih kecil daripada ibu jari. Ukuran rata-rata  kepala dan tubuh jantan 956 mm serta betina 776 mm. Tinggi saat berdiri tegak adalah 1.366 mm pada jantan dan 1.149 mm pada betina. Berat badan rata-rata adalah 75 kg pada jantan dan 37 kg pada betina.
Jika dibandingkan dengan Orangutan di Kalimantan, rambut Orangutan Sumatera lebih terang yaitu berwarna coklat kekuningan serta lebih tebal dan panjang. Ukuran tubuh rata-rata Orangutan jantan dewasa yaitu berkisar antara 125-150 cm, dua kali lebih besar daripada Orangutan betina. Berat badan rata-rata Orangutan jantan di alam yaitu berkisar antara 50-90 kg. Orangutan jantan memiliki kantung suara untuk mengeluarkan suara yang berupa seruan panjang.
Perbedaan morfologi Orangutan berdasarkan kelas umur dan jenis kelamin adalah sebagai berikut : (a) Bayi berumur 0-2,5 tahun dengan berat badan 2-6 kg memiliki rambut berwarna lebih terang pada bagian mulut dan lebih gelap pada bagian muka, (b) Anak berumur 2,5-5 tahun dengan berat badan 6-15 kg memiliki warna rambut yang tidak jauh berbeda dengan bayi Orangutan, namun pada kelas umur anak, orangutan sudah mampu mencari makan sendiri walaupun masih bergantung pada induknya, (c) Remaja  berumur 5-8 tahun dengan berat badan 15-30 kg memiliki rambut yang panjang disekitar muka, (d) Jantan setengah dewasa berumur 8-13/15 tahun dengan barat badan 30-50 kg memiliki rambut berwarna lebih gelap dan rambut janggut sudah mulai tumbuh serta rambut di sekitar wajah sudah lebih pendek, (e) Betina dewasa 8+ tahun dengan berat badan 30-50 kg sudah memiliki janggut dan sangat sulit dibedakan dengan betina setengah dewasa, dan (f) Jantan dewasa berumur 13/15+ tahun dengan berat badan 50-90 kg. Jantan dewasa memiliki kantung suara, bantalan pipi dan berjanggut serta berambut panjang.

Habitat dan Penyebaran
Hutan hujan tropis di Sumatera memiliki sejarah, iklim dan ekologi yang unik. Kekayaan spesies tertinggi adalah di hutan dataran rendah Dipterocarpaceae yang memang didominasi oleh pohon-pohon dari keluarga Dipterocarpaceae. Pohon-pohon Dipterocarpaceae menyediakan buah yang secara bersamaan pada setiap dua atau lima tahun sekali. Hal tersebut mengakibatkan pada masa tertentu buah tersedia sangat banyak namun pada waktu yang lainnya buah tersebut sama sekali  tidak  tersedia.  Hal yang berbeda terjadi pada hutan gambut Sumatera yang memiliki sedikit jenis tumbuhan endemik namun memiliki kepadatan yang tinggi, sehingga buah akan tersedia setiap tahun. Orangutan berperan penting dalam ekosistem, baik pada hutan dataran rendah Dipterocarpaceae ataupun di hutan gambut. Kebiasaan Orangutan dalam makan dan pola pergerakannya menyebabkan Orangutan merupakan penyebar biji/benih tumbuhan hutan yang sangat baik.
Orangutan di Sumatera hidup di dalam hutan yang daunnya lebih rindang daripada Orangutan yang hidup di hutan Kalimantan. Orangutamampu  beradaptasi  pada  berbagai  tipe  hutan  primer, mulai dari hutan rawa, hutan dataran rendah/hutan Dipterocarpaceae sampai pada tipe hutan pegunungan dengan batas ketinggian 1.800 m dpl. Namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa Orangutan Sumatera hidup di dataran rendah aluvial (lowland aluvial plains), daerah rawa dan daerah lereng perbukitan. Kepadatan Orangutan yang ada di daerah pada ketinggian 1.000 sampai 1.200 m dpl terus menurun.
Konsentrasi utama populasi Orangutan di Sumatera adalah pada habitat hutan dataran rendah dan hutan rawa yaitu terletak di antara Sungai Simpang Kiri (sebelah selatan Sungai Atlas) dan daerah pesisir Samudera Hindia memanjang sampai bagian utara daerah Benkung dan Kluet yang merupakan bagian selatan Gunung Leuser. Konsentrasi populasi Orangutan juga terdapat di habitat yang merupakan hutan pegunungan api  Dataran  Tinggi Kappi  hingga bagian utara  hutan Pegunungan Serbojadi dan hutan dataran rendah anak sungai Jambu Aye.
Orangutan Sumatera tersebar di bagian utara Sumatera, Aceh, Sumatera Barat dan Riau. Daerah rawa menggambarkan habitat yang optimal bagi Orangutan, seperti di Kluet yang merupakadaerah rawa tercatat ada lebih dari 8 individu Orangutan setiap km2 Di Sungai Ketambe dan Atlas (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) yang merupakan hutan dataran yang kering (bukan rawa) kepadatan populasi Orangutan lebih rendah yaitu sekitar 4 atau 5 individu/km2. Di bagian utara danau Toba telah dilaporkan terdapat habitat yang terpisah dari habitat utama Orangutan di bagian Barat dan Timur Leuser. Antara habitat utama di Barat dan Timur Leuser dengan habitat yang terpisah di selatan danau Toba tidak memiliki koridor penghubung.

Aktivitas dan Prilaku Harian
Kera besar memiliki otak yang lebih besar daripada primata lain. Pada umumnya kera besar lebih banyak yang hidup secara terrestrial namun pada Orangutan hidupnya arboreal. Kehidupan Orangutan dihabiskan diatas pohon dan jarang sekali turun ke lantai hutan, kecuali untuk memakan rayap. Orangutan berpindah dengan menggunakan keempat anggota tubuhnya, berpindah dari cabang ke cabang lain. Daerah jelajah Orangutan adalah berkisar antara  2-10  km dengan luas  wilayah  jelajah hariannya berkisar antara 800-1200 m2. Rijksen (1978) menyatakan bahwa ada 13 vokalisasi Orangutan sedangkan MacKinnon (1971) dalam Nowak (1999) vokalisasi Orangutan terdiri dari 15 suara. Orangutan relatif lebih pendiam dibandingkan dengan primata besar lainnya. Suara yang paling banyak tercatat adalah berupa panggilan panjang (long call) dari jantan dewasa yang mungkin terdengar dari jarak lebih dari 1 km, hal ini mungkin merupakan mekanisme dalam mengatur jarak bagi antar individunya.
Aktivitas Orangutan dipengaruhi oleh faktor musim berbuah dan cuaca. Saat buah sedang sulit didapat di hutan, Orangutan akan menghabiskan waktu menjelajah lebih banyak daripada waktu untuk makan. Demikian pula saat hari sedang kering (panas) Orangutan akan lebih banyak beristirahat pada siang hari. Pembagian penggunaan waktu oleh Orangutan adalah pada pagi hari digunakan untuk makan, siang hari untuk menjelajah dengan diselingi waktu istirahat siang. Orangutan akan mulai istirahat malam antara pukul 15.00-18.00 dengan aktivitas malam hari yang sangat sedikit.  Persentase aktivitas harian Orangutan adalah 47% untuk makan, 40% untuk istirahat, 12% untuk menjelajah dan sisa waktunya untuk aktivitas sosial.
Penggunaan ruang bagi aktivitas Orangutan yaitu pada lapisan antara 15-25 m diatas permukaan tanah hampir 70% dari waktu aktivitas hariannya, Orangutan menggunakan 20% waktu aktivitas hariannya pada lapisan lebih dari 25 m dan pada lapisan dibawah 15 m Orangutan hanya menggunakan kurang dari  10% waktu aktivitas hariannya. Orangutan biasanya selalu membuat sarang tidur di tepi sungai pada ketinggian 20-40 m diatas tanah.
Orangutan Sumatera sangat bervariasi dalam pemilihan jenis makanan. Secara  alami Orangutan adalah pemakan buah, tetapi juga memakan berbagai jenis makanan lain seperti daun, tunas, bunga, epifit, liana, zat pati kayu, dan kulit kayu. Sebagai sumber protein Orangutan juga mengkonsumsi serangga dan telur burung. Orangutan memiliki kebiasaan mencoba memakan segala sesuatu yang ia temui untuk dirasakan dan kemudian menentukan benda tersebut dapat dijadikan makanan atau tidak. Persentase jenis makanan Orangutan adalah 53,8% berupa buah, 29% berupa daun, 14,2% kulit kayu, 2,2% bunga, dan 0,8% adalah serangga.

B.     Konsep Bersarang
Sarang merupakan sesuatu yang sengaja atau tidak disengaja dibangun untuk  digunakan sebagai  tempat  berkembang biak  dan  atau  sebagai  tempat istirahat atau tidur. Pada setiap sarang memiliki letak yang berbeda untuk setiap jenis  satwa,  misalnya  (1)  sarang  yanletaknya  di  atas  pohon  pada  bagian batang, ranting atau cabang pohon; (2) sarang juga ada yang terletak di pohon yang dibuat lubang-lubang; dan (3) sarang yang terletak pada tanah, baik yang di permukaan tanah, lubang di dalam tanah ataupun di dalam gua.
Perilaku membangun sarang pada Orangutan diindikasikan sebagai suatu prilaku yang menunjukkan kecerdasan kera besar. Orangutan membangun sarang harian untuk tempat tidur malam dan untuk waktu tidur tambahan di siang hari. Jumlah sarang dapat dijadikan dasar perhitungan untuk mengetahui jumlah Orangutan di habitatnya. Sekurang-kurangnya Orangutan membangun 1 sarang dalam satu hari. Orangutan membangun sarangnya akan memilih tempat yang berdekatan dengan pohon buah sumber pakannya, selain itu juga topografi daerah di sekitarnya. Kegiatan pembuatan sarang Orangutan terdiri dari beberapa tahap yaitu : (1) Rimming (melingkarkan) yaitu melekukkan dahan secara horizontal sampai membentuk lingkaran sarang kemudian ditahan dengan melekukkan dahan lainnya sehingga membentuk kuncian jalinan dahan, (2) Hanging (menggantung) yaitu melekukkan dahan ke dalam lingkaran sarang sehingga membentuk kantung sarang, (3) Pillaring (menopang) yaitu melekukkan dahan ke bawah sarang sebagai penopang sarang, (4) Loose (melepaskan)  yaitu  memutus  beberapa  dahan  dari  pohon  dan diletakkan ke dalam sarang sebagai alas atau di bagian atas sebagai atap.
Keawetan  sarang tergantung pada  teknik  konstruksi, berat  dan  ukuran Orangutan, suasana hati saat membangun sarang, lokasi dan karakteristik pohon, cuaca  serta  keberadaan  satwa  lain  yanmungkin  akan  merusak  sarang Orangutan tersebut, dalam waktu 2,5 bulan sarang Orangutan akan tetap terlihat sebelum  pada  akhirnya  akan  hancur  dan  tinggal  ranting-rantingnya  saja. Sarang terdistribusi secara acak dan letaknya tergantung pada beberapa pertimbangan seperti jaraknya dengan sungai, dengan pohon buah/feeding tree, keterlindungan dari matahari siang hari, angin malam hari, dan keterjangkauan pandangannya terhadap areal.
Orangutan muda akan membangun sarang (untuk bermain) lebih dari satu sarang setiap hari. Beberapa sarang dapat digunakan kembali dan dalam beberapa kasus ada sarang lama yang dibangun kembali oleh Orangutan yang berbeda. Konsentrasi sarang Orangutan berada di lokasi yang banyak tersedia makanan, tempat mengasin  dan  pada  pertemuan  punggung  bukit  atau  pada  lereng  yang mungkin mendapat hangat sinar matahari, pandangan yang luas namun terlindung dari terpaan angin. Faktor lainnya yang mempengaruhi letak sarang Orangutan adalah keberadaan sarang lain di lokasi tersebut. Apabila terdapat pohon yang sedang berbuah (terutama buah yang menarik dan disukai Orangutan) maka Orangutan tersebut mungkin akan kembali pada sarangnya yang lama dan akan menggunakannya beberapa hari berturut-turut.
Orangutan pada umumnya akan kembali ke lokasi sarang lamanya setiap 2-8 bulan berikutnya. Saat sedang hujan deras Orangutan akan membangun sarang perlindungan dengan kualitas yang sama bagusnya seperti sarang tidur di malam hari. Atap pelindung seringkali dibuat oleh Orangutan, yang teridentifikasi berfungsi sebagai pelindung dari hujan, naungan sinar matahari dan alat penyamaran (kamuflase). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Galdikas (1984) pernah ditemui dua buah sarang Orangutan yang berada di permukaan tanah. Sarang permukaan tanah yang pernah dilihat adalah sarang untuk  istirahat  siang  yang disusun dari  beberapa pohon tumbang dan  pada sarang tersebut terlihat seekor jantan dewasa sedang tidur siang selama ¾ jam.

C.    Keterancaman Orangutan
Kerusakan hutan dataran rendaSumatera  berpengaruh besaterhadap penurunan kualitas habitat Orangutan Sumatera, sehingga populasi Orangutan pun semakin berkurang. Kerusakan hutan yang terjadi di Sumatera disebabkan adanya penebangan hutan, pertambangan, kebakaran hutan, perubahan tata guna lahan serta tekanan populasi penduduk. Kerusakan tersebut juga dikarenakan adanya perburuan ilegal, pembangunan infrastruktur dan meningkatnya kebutuhan masyarakat. Antara tahun 1985-1997 hutan di Sumatera berkurang sampai 61%, dengan berkurangnya jumlah hutan tersebut populasi Orangutan Sumatera semakin berkurang terutama jika habitat utama di Gunung Leuser terfragmentasi. Di beberapa daerah di Sumatera Orangutan diburu dan dibunuh untuk dikonsumsi sebagai bahan makanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Mata Kuliah Keperiwisataan Alam; WANA WISATA COBAN RONDO

Tugas Uji Kompetensi SKL; KESETARAAN GENDER DAN PERAN PEREMPUAN DI BIDANG KEHUTANAN

Something Old; SAATNYA MELESTARIKAN DANAU TOBA